9/06/2008

COLOUR THEORY

Bambang Sapto Cahyono
Tunas bangsa secondary school
Grade Level:
Middle Year Program, grades 7 and 8

Guiding question:
How can the Elements and principles of Design help me to express myself through the medium of visual art?

Objectives:
· Criteria A-Knowledge & Understanding:
Students acquire knowledge and terminology surrounding color and its significance in art, the art historical period of Fauvism and how it helped shape the arts, and decora naifistis painter widayat
· Criteria B-Application:
Students apply what they have learned and explore media while demonstrating their ability to make decisions and find solutions to open-ended exercises
· Criteria C-Evaluation and reflection:
Students reflect upon, evaluate, assess and appraise the work of decora naifistis painter widayat, their own work, and the work of their peers through individual thought, group discussion, and class critique
· Criteria D-Artistic Awareness and Personal Engagement:
Students accept and incorporate views and feedback from their peers during a class critique, show self-motivation in meeting deadlines, show creativity and problem-solving in their artistic processes, and support and encourage each other during studio and critique time

Areas of Interaction:
· Approaches to Learning—Note taking, listening, questioning, observation, discussion, group work, presenting, problem solving and subject-specific conceptual understanding are all employed in the lesson.
· Homo Faber—Looking at human contributions to the world through art, effective communication both verbally and visually, intentional thought, and the act of creating are all incorporated into this lesson.

Concepts:
·Color
· Primary, secondary, tertiary
· Tints and shades
· Warm and cool colors
Art History
· Naifisme
· decoratif
· widayat painting
Painting
· Color mixing
· Style
· Technique
· Care of materials

Materials and Resources:
Students
· Developmental Workbooks (DW)
· Pencils
· Poster colour
· Acrylic paint
· paper
Teacher
· Color Wheel handout
· Large image of widayat,seniman dekoranaifistis Indonesia (hard copy or digital with projector)
· Hard copies of the happy world of Faisal ( catalog exhibition )
· Acrylic paint
· Brushes (various sizes)
· Formative rubric

Procedure:
Introduction/Instruction (one half class period):
To begin the lesson, the class will discuss elementary color theory using as much questioning and deductive reasoning as possible. Students will take notes in their DWs:
Color wheel
· Primary colors (red, blue, yellow; cannot be made with any other colors)
· Secondary colors (green, orange, violet; made by mixing two primaries)
· Tertiary or Intermediate colors (red-violet, red-orange, yellow-orange, yellow-green, blue-green, blue-violet; made by mixing a primary and a secondary)
Color schemes
· Warm (red, orange, yellow and tertiaries)
· Cool (blue, green, violet and tertiaries)
· Complementary (colors opposite from one another on the color wheel, ex. yellow and violet)
· Analogous (colors next to each other on the color wheel, ex. Green, blue-green and yellow-green)
· Color Triad (colors forming a triangle on the color wheel, ex. red, blue and yellow or blue-green, yellow-orange and red-violet)
· Monochromatic (only one color and its tints and shades)
· Achromatic (black and white only—no colors used)
· Hue
· Value
· Intensity
· Tint
· Shade
· Purity/Strength

Application (three and one half class periods):
Color Wheel activity handout
Using acrylic paint, students will complete a color wheel in which they will mix and paint primary, secondary and tertiary colors, tints and shades into spaces on a pre-fabricated color wheel handout to be pasted into their DW. This will give them experience with color mixing for the next task. For homework or in the library/computer lab, students will research Fauvism and artist Andre Derain. They will put their findings (images, notes, information) in their DWs.

Widayat and faisal collaborative Painting
The next class will begin with a discussion about decoratif and naifistif widayat and faisal based upon the students’ findings. and students will make observations about style, color, subject matter, etc, relating their observations to their prior research. A copy of the painting will be divided into 21color sections (7 across and 3 down, 17x26cm each), and each student will be given a section to enlarge proportionally on poster or illustration board. Here, they will practice painting technique and demonstrate what they have learned about color mixing. When completed, the sections will be assembled to create an enlarged version of London Bridge. (See next page for divided image.)

8/11/2008

SUDUT KOTA JOGJA




Hampir setiap saya pulang kejogja ternyata pasti saja yang baru,mall baru,kampus baru,gedung ini baru gedung itu baru,dan terakhir adalah adanya bus transjogja,memang semua itu menambah jogja menjadi cantik dan rapi,walaupun sekarang ini kemacetan sudah membudaya karena semakin banyaknya kendaraan roda dua dan roda empat yang ada dijogja belum ditambah lagi ,dengan angkutan angkutan umum yang semakin banyak dan semakin gila didalam berlalu lintas.namun ada beberapa sudut kota jogja yang tidak tenggelam dengan gemerlapnnya modernisasi yang tengah melanda kota jogja,diantaranya adalah perempatan kantor pos yang semakin eksotic,benteng venderburg,perempatan tugu jogja,pasar klitikan,pasar ngasem,pasar beringharjo dengan batiknya lembah UGM yang semakin ramai ,kawasan malioboro,jalan solo dan masih banyak lagi tempat tempat yang bisa menjadi tempat untuk bernostalgia dijogja

8/10/2008

OLEH OLEH DARI JOGJA

Festifal Kesenian Yogyakarta & jogja Art fair 2008
Seperti biasanya setiap bulan juni -juli jogja selalu ramai oleh padatnya mobil dan bus baik yang digunakan untuk pribadi maupun rombongan,ya bulan itu merupakan saat liburan bagi siswa siswa sekolah.tidak terkecuali bagiku yang setelah sekitar setengah tahun meninggalkan jogja untuk menjadi seorang pendidik,kesempatan liburan adalah saat saat yang ditunggu tunggu untuk dapat pulang kampung.sebenarnya aku malas untuk pulang kampung membayangkan ribetnya beli tiket dan mebeli oleh oleh. . .he he he. tapi kewajiban dan keinginan untuk dapat bertemu dengan keluargalah yang membuatku untuk balik kejogja.
Setelah beberapa hari dijogja,ada hal yang masih menganjal dibenakku yaitu keinginanku untuk melihat festival kesenian Jogjakarta,saya membayangan bahwa FKY akan lebih baik dan meriah dibandingkan dengan FKY tahun sebelumya,dengan stan yang banyak menampung berbagai industri seni yang ada dijogja,banyak seniman senior yang akan terlibat,dekorasi ruangan yang “nyeni”sampai panggung hiburan yang meriah.semua aku bayangkan dengan wahnya.karena kebetulan selama aku berada dipontianak sangat miskin dan gersang dengan yang namannya kegiatan pameran seni rupa.mungkin saya terlalu muluk muluk membayangkan FKY ini ketika masih dijalan.saya membayangkan FKY akan sangat megah dan meriah.apalagi ketika melihat poster yang sangat besar terpampang didepan benteng venderburg.namun begitu ketika sudah memasuki benteng venderburg tidak ada hiasan hiasan yang menarik,stan didepan yang kosong hanya ada beberapa kafe yang sengaja dibuat dadakan mungkin biar kelihatan “wah”mimpi saya jadi luruh.ternyata FKY sekarang terasa kurang greget dan sangat hambar.bagi yang rajin mengikuti atau melihat pameran seni rupa tidak perlu untuk menjelajah tiap stan yang ada,tidak ada yang akan membuat anda gemas atau berlama lama karena isinya hanya” si ini dan si itu”
Yang mungkin masih dapat menghibur adalah diadakannya JAF ( jogja Art Fair ) yang diadakan di Taman Budaya,kesan wah terlihat dari dekorasi pintu masuk yang dibuat dengan lukisan graffiti yang sangat besar.saya sekali lagi sempat membayangkan JAF merupakan ajang pasar seni yang paling hebat bagi perupa jogja maupun Indonesia ( karena banyak dikuti seniman seniman dari luar jogja )namun ketika sudah masuk dan melihat lukisan lukisan yang “dipamerkan”kembali mimpi saya luruh,ternyata JAF tidak lebih dari pameran pameran digallery.mungkin pengharapan saya terlalu muluk.sangat terasa pengelompokan karya secara visual.simbolisme menjadi ladang pelarian para perupa karena hampir semua seniman yang berpameran menampilkan karyanya dengan gaya simbolisme.banyak perupa yang berkarya mengikuti pasar,bila “pemodal “suka dengan gaya abstrak maka perupa berkarya seni abstak,hingga muncul musim gaya didalam pasar seni rupa,musim surealisme,dekoratif,naifisme,pernah menjadi bintang pasar seni rupa.naifisme yang dulu sangat “dielu eluan”hampir tidak ada karyanya yang dipamerkan.terlepas dari semua itu saya salut dengan keberanian panitia JAF yang berani menampilkan para seniman seniman muda.

oleh oleh dari jogja

5/28/2008

guru ideal

Guru ideal?. . . . itu topik yang bagus untuk dibicarakan. Kita ndak usah muluk-muluk tentang kriteria apa ideal itu. Idealnya si A belum tentu sama dengan ideal si B. jadi dapat dikatakan ideal tergantung dari posisinya masing-masing. Akan tetapi yang namanya ideal ada standarnya. untuk masalah guru nich, kita ikuti aja kata Ki Hajar Dewantara ; Ing ngarso sung tuladha, Ing madya bangun karso, Tut wuri handayani. Tiga hal itu bila dijabarkan akan membawa arahan kita dalam mencapai titik temu memahami seorang guru. Memang secara empirik, idealitas guru tergantung dari konteks, bahkan tergantung dari bagaimana para siswa menilai gurunya karena siswalah user utama yang bisa menilai akan aneka kelebihan yang dimiliki guru. Akan tetapi ada standar normatif. Coba lihat pada UU no 14/2005 mengenai 4 syarat kompetensi guru, serta lihat rumusan dari komisi khusus ditjend Dikti tentang sosok utuh guru profesional. Di sana tertera yakni guru profesional itu: (1) memahami peserta didik, (2) memiliki kemampuan pembelajaran yang mendidik, (3) menguasai bidang studi, dan (4) mampu mengembangkan kemapuan profesionalnya secara berlenajutan. Persoalannya adalah sudahkan kita memiliki hal-hal tersebut? Maka menjadi PR kita bersama bahwa menjadi guru adalah adanya kewajiban untuk selalu meningkatkan mutu diri kita secara berkelanjutan menuju pada sosok guru yang diidealkan oleh semua pihak: sisiwa, teman sesama, orang tua siswa, masyarakat, dan pemerintah. ideal itu adalah guru yang memiliki kompetensi profesional yang tinggi terhadap tugasnya sebagai guru, dimana guru tidak hanya sekedar mentransfer materi pelajaran,tetapi guru yang ideal itu tau bagaimana cara membuat siswa-siswanya mengerti terhadap apa yang disampaikan. selain itu, guru yang ideal itu adalah sosok yang bisa menjadi teman (dalam tanda kutip ) bagi para siswanya,yang dapat memahami kondisi siswa-siswanya, sehingga antara guru dan siswa terjalin hubungan yang baik. Dengan hubungan yang baik,otomatis akan tercipta komunikasi yang baik antara siswa dan guru sehingga guru dapat lebih mudah menyelami dunia siswa untuk memberikan pengajaran yang ideal dan dapat mendidik para siswanya untuk menjadi yang lebih baik, karena tugas guru tidak hanya mengajar,tetapi juga mendidik.

GURU IDEAL


Guru ideal?. . . . itu topik yang bagus untuk dibicarakan. Kita ndak usah muluk-muluk tentang kriteria apa ideal itu. Idealnya si A belum tentu sama dengan ideal si B. jadi dapat dikatakan ideal tergantung dari posisinya masing-masing. Akan tetapi yang namanya ideal ada standarnya. untuk masalah guru nich, kita ikuti aja kata Ki Hajar Dewantara ; Ing ngarso sung tuladha, Ing madya bangun karso, Tut wuri handayani. Tiga hal itu bila dijabarkan akan membawa arahan kita dalam mencapai titik temu memahami seorang guru. Memang secara empirik, idealitas guru tergantung dari konteks, bahkan tergantung dari bagaimana para siswa menilai gurunya karena siswalah user utama yang bisa menilai akan aneka kelebihan yang dimiliki guru. Akan tetapi ada standar normatif. Coba lihat pada UU no 14/2005 mengenai 4 syarat kompetensi guru, serta lihat rumusan dari komisi khusus ditjend Dikti tentang sosok utuh guru profesional. Di sana tertera yakni guru profesional itu: (1) memahami peserta didik, (2) memiliki kemampuan pembelajaran yang mendidik, (3) menguasai bidang studi, dan (4) mampu mengembangkan kemapuan profesionalnya secara berlenajutan. Persoalannya adalah sudahkan kita memiliki hal-hal tersebut? Maka menjadi PR kita bersama bahwa menjadi guru adalah adanya kewajiban untuk selalu meningkatkan mutu diri kita secara berkelanjutan menuju pada sosok guru yang diidealkan oleh semua pihak: sisiwa, teman sesama, orang tua siswa, masyarakat, dan pemerintah. ideal itu adalah guru yang memiliki kompetensi profesional yang tinggi terhadap tugasnya sebagai guru, dimana guru tidak hanya sekedar mentransfer materi pelajaran,tetapi guru yang ideal itu tau bagaimana cara membuat siswa-siswanya mengerti terhadap apa yang disampaikan. selain itu, guru yang ideal itu adalah sosok yang bisa menjadi teman (dalam tanda kutip ) bagi para siswanya,yang dapat memahami kondisi siswa-siswanya, sehingga antara guru dan siswa terjalin hubungan yang baik. Dengan hubungan yang baik,otomatis akan tercipta komunikasi yang baik antara siswa dan guru sehingga guru dapat lebih mudah menyelami dunia siswa untuk memberikan pengajaran yang ideal dan dapat mendidik para siswanya untuk menjadi yang lebih baik, karena tugas guru tidak hanya mengajar,tetapi juga mendidik.

GURU GALAK


Guru galak?. . . Kedengarannya sangat ekstrim dan Mungkin sebagian siswa akan serempak mengatakan bahwa mereka tidak suka dengan guru yang galak. Padahal tujuan guru itu galak sebenarnya sangat baik yaitu agar murid-murid itu disiplin didalam mengikuti proses belajar mengajar. Tetapi galak itu tidak harus dengan marah dan tindak kekerasan . . . Yah mungkin memang ada murid yang harus dimarah karena perbuatan mereka juga. Guru memang sesekali juga harus marah agar muridnya itu tidak meremehkan..gurunya. Harus dibedakan antara galak sebagai disiplin dengan galak dalam bentuk fisik. Galak untuk disiplin itu contohnya guru memberikan sangsi bagi siswa yang tidak mengerjakan tugas sesuai dengan porsi kesalahan. Memberikan sangsi hanya salah satu cara agar para murid itu tidak mengulangi perbuatannya. Secara umum tujuan dari guru bersifat galak adalah agar muridnya belajar dengan giat dan dapat mencapai hasil belajar yang maksimal.

5/23/2008

WIDAYAT PELUKIS DEKORA NAIFISTIS INDONESIA


Ia dilahirkan di Kutoarjo,jawa tengah pada tahun 1923.menurut sumber yang lebih otentik ternyata widayat dilahirkan pada 2 Maret 1919.mana yang benar,Walahualambisawab.bakat melukis widayat dari kecil sudah kelihatan.setiap sore widayat menunggui Mulyono melukis (mulyono adalah kakak temannya) dan memperhatikan dengan cermat bagaimana mulyono mengayunkan kuasnya,mencampur cat dipalet sampai menggoreskannya dikanvas,semua itu widayat perhatikan dengan seksama.sampai suatu hari widayat beranikan diri untuk meminta sisa cat yang yang telah mulyono gunakan.dan dengan sisa cat itu widayat mencoba coba membuat gambar diatas kertas.kebahagiaan dengan menggambar tersebut terpupuk dari hari kehari.sampai akhirnya widayat tidak bias lepas lagi dari menggambar.
Pada tahun 1950 widayat pergi kejogjakarta dan mendaftar di Akademi Seni Rupa Indonesia dan diterima.selama mengikuti proses perkuliahan widayat banyak mempeoleh bimbingan dari hendra Gunawan.ia dilecut kreatifitasnya untuk dari awal supaya sudah menemukan identifikasi diri didalam melukis.rekan rekan seangkatan widayat sekarang sudah banyak yang menjadi pelukis terkenal diantaranya G.Sidharta,Bagong Kusudiarjo,Abas Alibasyah,Edi Sunaryo,Gambir Anom.
Pada Tahun 1954,Widayat bersama teman temannya mendirikan Pelukis Indonesia Muda,pada tahun 1959 widayat ,sunarto dan kawan kawannya dari ASRI Yogyakarta mendirikan sanggar bambu.Widayat menyelesaikan studinya pada tahun 1954,widayat juga aktif mengikuti pameran baik yang diselenggarakan oleh ASRI maupun pameran diluar ASRI.Widayat banyak mendapat perhatian dan dorongan dari para dosennya di ASRI,terutama sekali dari Hendra Gunawan Dan Kusnadi,dari Kusnadi lah Widayat mendapat rekomendasi untuk dikirim belajar ke jepang.dijepang widayat belajar keramik,gardening,grafis dan seni merangkai bunga atu ikebana.sekembali dari jepang likisan widayat banyak yang berubah .pada tahun 1954 setelah selesai belajar diASRI,widayat diterima sebagai salah seorang pengajar di ASRI yogyakarta.bahkan sejak tahun 1962 sekembalinya dari jepang widayat terpilih sebagai ketua jurusan ruan dalam di ASRI.widayat banyak memperoleh penghargaan dari pemerintah diantaranya pada tahun 1972 widayat menerima ANUGERAH SENI dari pemerintah sebagai pelukis Kontemporer Indonesia.
Widayat termasuk seorang pelukis yang mengalami beberapa macam corak dalam lukisannya,dari corak realisme,semi abstrak,dekoratif,sebagai pelukis widayat termasuk yang mampu menuankan pengalaman estetisnya dalam komponen bentuk,warna,texture,ritme,komposisi dan cerita dalam suatu kesatuan yang harmonis dan seimbang,ia mulai mengedepankan setiappengalaman pribadinya dalam pengendalian manifestasinya lewat bahasa rupa,bentuk,warna dan texture.arti Widayat yang dominan adalah kemampuannya untuk merentang hubungan antara warisan budaya moyangnya,lingkungannya,lingkungan pendidikannya,maupun pengalaman pribadinya,aspirasi dan konsepsi estetisnya secara menyeluruh dan matang.( dikutip dari buku pelukis dekora magis Indonesia,oleh sudarmaji )

I Love Painting

burung enggang,karya Lidya OS,cat minyak diatas kanvas,50cmx60cm

bercengkrama,karya Vellika Wibowo,grade 7,cat minyak diatas kanvas 50cmx60cm


siap bertarung,karya Reinaldo maslim,cat minyak diatas kanvas,50cmx60cm


( lukisan diatas adalah sebagian karya siswaku,Lidya OS,Vellika wibowo,Reinaldo M,semuanya menggunakan media cat minyak diatas kanvas )


Ada yang ditunggu tunggu oleh vellika,lidya dan beberapa murid lainnya setiap hari rabu jam terakhir,bahkan sebelum jam masuk mereka sudah meminta kunci untuk dapat masuk kedalam ruangan seni rupa dimana nantinya mereka akan belajar seni rupa. . . ya jam pelajaran seni rupa bagi sebagian siswa yang senang dengan pelajaran tersebut adalah saat yang sangat mengasyikkan bagi mereka ,dimana mereka dapat belajar dan berkarya seni rupa,melukis membuat patung,belajar membuat komik ataupun membuat karya seni rupa lainnya.bahkan mereka sampai meminta agar pelajaran seni rupa ditambah menjadi tiga jam pelajaran.merekapun merelakan waktu luangnya untuk ikut extra melukis setiap hari jumat sore disekolahan .dari beberapa hasil karya yang telah mereka buat memang kemampuan mereka didalam berkarya seni rupa sangat baik dibandingkan dengan siswa yang lainnya.yah memang setiap anak mempunyai kecerdasan dan kemampuan yang tidak sama.

5/21/2008

my gallery,ajang apresiasi dan kreasi siswa sekolah tunas bangsa


lsuasana kelas ketika siswa sedang mempersiapkan karyanya untuk pameran

My gallery. . . itulah tema yang diambil dalam pameran lukisan yang diadakan oleh Sekolah Tunas Bangsa Pontianak,pameran ini merupakan pameran gabungan dari seluruh elemen yang ada di sekolah Tunas Bangsa,Mulai dari tingkat Taman kanak kanak,SD,SMP maupun para guru khususnya Pak Yan sebagai guru menggambar SD dan saya sendiri sebagai guru seni rupa SMP,yang menarik dari pameran ini adalah semua menggunakan media daur uang yaitu dengan menggunakan kertas bekas kalender hal itu sesuai dengan konsep awal kegiatan “Recycle”.siswa menggambar diatas kertas kalender menggunakan cat poster.semua karya dipajang dihalaman sekolah,tidak kurang ada sekitar 200 karya yang dipamerkan dan dilelang untuk umum,oya pameran ini dibuka ini dibuka oleh bapak LH Kadir wakil Gubernur Kalimantan Barat,dan dihadiri oleh perwakilan dari dinas pendidikan Kalbar,dinas pendidkan Kabupanten Pontianak dan para undangan lainnya serta dimeriahkan atraksi barongsai,pagelaran tari dan lain lain
Dari hasil lelang lukisan sebagian dari hasil penjualan disumbangkan untuk para siswa yang berasal dari sekolah disekitar sekolah tunas bangsa,oya dari sekitar delapan lukisan yang saya ikutkan dalam pameran,alhamdulilah sekitar tujuh lukisan laku terjual,ada dua lukisan yang tidak terjual masing masing denga judul penari bali 1,penari bali 2,padahal menurut saya kedua lukisan itu adalah yang paling bagus,tapi pada kenyatanya justru lukisan yang lainnya malah bisa diapresiasikan dan terjual.
Yah ini semua merupakan kegiatan awal yang menurut kami sebagai panitia masih ada beberapa hal yang harus diperbaiki agar untuk pelaksanaan pameran berikutnya dapat berjalan dengan lebih baik